Dorna menambahkan, "Monrest memanfaatkan kelemahan ini. Mereka memastikan bahwa tidak ada satu pun suku yang cukup kuat untuk melawan mereka. Mereka menculik wanita dan anak-anak dari suku-suku seperti Yaksa dan Auksa, merusak keseimbangan populasi dan membuat suku-suku itu semakin lemah."

Leena, yang mendengarkan dengan seksama, bertanya, "Jadi, apa yang terjadi pada setiap suku sekarang?"

Maret mulai menjelaskan satu per satu. "Yaksa dan Auksa dulunya adalah suku yang besar dan kuat, tetapi sekarang mereka hampir punah. Suku Yaksa hidup di sekitar sungai besar dan danau, ahli dalam navigasi dan menangkap ikan. Namun, Monrest sering menyerang mereka, menculik wanita dan remaja untuk dijadikan budak atau persembahan. Mereka yang tersisa sekarang paranoid dan sangat berhati-hati.

Auksa, di sisi lain, tinggal di rawa-rawa dan terkenal karena keahlian mereka dalam membuat racun alami. Namun, tempat tinggal mereka yang sulit dijangkau tidak selalu menyelamatkan mereka. Monrest juga memburu mereka, dan setiap kali mereka ditemukan, Monrest menghancurkan segalanya. Jumlah mereka sekarang sangat sedikit."

Lynx merenung, membayangkan betapa sulitnya hidup di bawah ancaman seperti itu.

"Suku Uksa lebih pragmatis," lanjut Maret. "Mereka hidup sederhana, mengandalkan jebakan dan alat-alat kayu untuk berburu dan bertani. Mereka menjaga hubungan netral dengan suku-suku lain, tetapi jarang membantu dalam konflik. Ketika Monrest mendekat, mereka biasanya berpindah tempat untuk menghindari konfrontasi. Mereka tidak suka mengambil resiko, tetapi itu adalah cara mereka bertahan."

Sherly mencibir. "Jadi mereka hanya berlari dan bersembunyi?"

Maret menatap Sherly dengan tajam. "Kadang, bertahan hidup lebih penting daripada berperang."

"Raksa adalah kebalikannya," kata Maret. "Mereka adalah petarung yang tangguh dan keras kepala. Mereka melatih anak-anak mereka bertarung sejak kecil dan percaya bahwa hanya kekuatan yang bisa melindungi mereka. Tetapi keberanian mereka sering membawa masalah. Mereka pernah mencoba menyerang markas Monrest, tetapi gagal. Akibatnya, Monrest memburu mereka dengan ganas. Sekarang mereka sering mencuri dari suku lain untuk bertahan hidup, yang membuat hubungan mereka dengan suku lain semakin tegang."

Leena tampak terkejut. "Mereka mencuri dari suku lain? Bukankah itu malah memperburuk situasi?"

Maret mengangguk. "Itulah masalahnya. Ketika semua orang hidup dalam kelangkaan, persaingan menjadi lebih tajam. Tidak ada ruang untuk saling percaya."

Dorna melanjutkan, "Kami, Suku Sinto, mencoba menjaga perdamaian. Kami menghormati alam dan roh-roh yang melindungi kami. Kami sering menjadi penengah antara suku-suku lain, meskipun itu tidak selalu berhasil. Tetapi hubungan kami dengan Monrest sangat berbahaya. Beberapa dari kami yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan sering menjadi target penculikan. Kami tidak bisa melawan mereka secara langsung, jadi kami hanya bisa bertahan."

Leena menyela, "Apakah tidak ada momen dimana suku-suku ini bekerja sama?"

Maret mengangguk pelan. "Ada beberapa momen ketika ancaman Monrest terlalu besar, suku-suku bersatu untuk melindungi diri. Tetapi setelah ancaman itu berlalu, perpecahan dan dendam lama selalu kembali. Persatuan kami rapuh, dan Monrest tahu bagaimana memanfaatkannya."

Sherly mendesah. "Jadi, kita menghadapi musuh yang menguasai pulau ini, sementara yang lain terlalu sibuk bertengkar?"

Lynx menatap api unggun, pikirannya berputar-putar. "Mungkin ini saatnya untuk mengubah itu," katanya perlahan. "Jika kita bisa menyatukan mereka, kita punya kesempatan melawan Monrest."

Dorna menatap Lynx dengan ekspresi penuh harapan. "Itu tidak mudah. Tetapi jika ada seseorang yang bisa melakukannya, mungkin itu kau."

Leena menatap Lynx dengan mata penuh keyakinan. "Kau bisa melakukannya, Lynx. Kau sudah menunjukkan kekuatan dan kepemimpinanmu."

Sherly melipat tangan, tetapi ada secercah senyum di wajahnya. "Kalau kau gagal, setidaknya kau akan memberikan kami pertunjukan yang menarik."

Lynx tertawa kecil, tetapi wajahnya kembali serius. Ia tahu tugas ini tidak mudah. Suku-suku itu harus disatukan untuk menghadapi ancaman yang jauh lebih besar daripada dendam mereka sendiri. Dan ia harus menemukan cara untuk memimpin mereka, meskipun ia sendiri masih belajar memahami kekuatan dan perannya di pulau ini.

Malam itu, api unggun perlahan padam, tetapi percakapan mereka membuka jalan menuju harapan baru. Lynx tidak hanya harus mengatasi Monrest, tetapi juga membangun kembali kepercayaan yang telah hilang

di antara suku-suku di pulau tersebut.

Keesokan harinya, Lynx bangun lebih awal, bertekad untuk memahami kekuatan yang ia rasakan sejak mengonsumsi pil misterius itu.

Di tengah lapangan kampung, Leena dan Sherly duduk di bawah pohon besar, memperhatikan Lynx yang tampak sibuk mencoba berbagai cara untuk memanfaatkan energi dari matahari.

"Baik," gumam Lynx pada dirinya sendiri. Ia berdiri dengan kaki terpisah, membiarkan cahaya matahari menyinari seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan aliran energi seperti yang ia rasakan sebelumnya.

Leena memiringkan kepala, memperhatikan dengan seksama. "Apa yang dia lakukan?" bisiknya pada Sherly.

Sherly mengangkat bahu. "Mungkin dia berpikir dia bisa menjadi tanaman dan fotosintesis," jawabnya sinis.

"Aku mendengarmu," kata Lynx tanpa membuka mata, membuat Sherly tertawa kecil.

Setelah beberapa menit berkonsentrasi, Lynx membuka matanya. Tidak ada yang terjadi. Ia mencoba lagi, kali ini menempatkan kedua tangannya di depan dada, seolah-olah sedang menghimpun energi.

Sherly berdiri, menatapnya dengan tangan di pinggul. "Lynx, kau hanya berdiri di sana seperti patung. Apa kau yakin ini cara yang benar?"

"Kalau kau punya ide, aku terbuka mendengarnya," balas Lynx tanpa menoleh.

"Baiklah, bagaimana kalau kau mencoba bergerak sambil menyerap energi?" usul Leena.

Lynx mengangguk. Ia mulai berjalan perlahan, mencoba membiarkan sinar matahari mengenai tubuhnya dari berbagai sudut. Tapi tidak ada yang terjadi. Ia menghela napas panjang, frustrasi.

Sherly terkekeh. "Bagaimana kalau kau mencoba berbaring di tanah? Mungkin kau butuh lebih banyak kontak dengan alam."

"Baik," kata Lynx, meskipun nada suaranya terkesan tidak yakin dengan ide itu. Ia berbaring telentang di tengah lapangan, membiarkan matahari langsung mengenai tubuhnya. Setelah beberapa menit, ia duduk kembali, menggelengkan kepala.

"Tidak berhasil," katanya dengan nada kecewa.

"Setidaknya kita tahu kau tidak berubah menjadi kadal," ledek Sherly, membuat Leena memukul lengannya pelan.

Saat Lynx kembali mencoba berbagai cara, Nenek Dorna mendekat sambil membawa tongkatnya. Ia berhenti di sisi Leena dan Sherly, mengamati Lynx.

"Apa yang dia lakukan?" tanya Dorna dengan nada heran.

Leena menjelaskan, "Dia mencoba memahami kekuatannya, Nenek. Tapi sepertinya dia belum tahu bagaimana cara kerjanya."

Dorna mengangguk perlahan, lalu berjalan mendekati Lynx. "Anak muda," katanya, "kadang-kadang, kekuatan tidak bisa dipaksakan. Kau tidak bisa hanya mencoba segala cara tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi."

"Aku hanya ingin belajar mengendalikannya," kata Lynx dengan nada frustrasi. "Jika aku tidak mengerti kekuatanku, bagaimana aku bisa melindungi kalian semua?"

"Kau harus belajar bersabar," kata Dorna dengan lembut. "Kekuatan seperti ini membutuhkan waktu untuk dipahami. Jangan terburu-buru."

Lynx mengangguk, tetapi dalam hatinya ia masih merasa tidak puas.

Saat siang tiba, Lynx mencoba lagi, kali ini berdiri di atas batu besar di tengah lapangan kampung. Ia mencoba membayangkan sinar matahari yang masuk ke tubuhnya, mengalir melalui pembuluh darahnya seperti arus air. Untuk sesaat, ia merasakan sesuatu.

"Aku merasakannya!" serunya dengan penuh semangat.

Leena dan Sherly berdiri, memperhatikan dengan antusias. Tetapi semangat itu hanya berlangsung sesaat sebelum tubuh Lynx mulai memanas. Wajahnya memerah, dan ia jatuh berlutut di atas batu.

"Lynx!" Leena berteriak, berlari mendekatinya.

"Aku... kepanasan!" teriak Lynx. Tubuhnya berubah merah menyala seperti bara api, dan ia mulai berguling-guling di tanah.

Leena segera mengambil ember air, berlari kembali dan menyiramkan air ke tubuh Lynx. Tetapi air itu langsung menguap begitu menyentuh kulitnya. Lynx menggeliat, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa.

"Jangan sentuh aku!" teriaknya. "Tubuhku terlalu panas!"

Leena mencoba menyentuhnya, tetapi ia terlempar mundur oleh sesuatu yang tak kasat mata. Sherly berlari mendekat, tetapi langsung berhenti ketika merasakan hawa panas dari tubuh Lynx.

"Ada apa dengannya?" tanya Sherly dengan nada panik.

Penduduk kampung berkumpul, menatap Lynx dengan khawatir. Nenek Dorna mendekat, tetapi hanya berdiri di kejauhan. "Dia menyerap terlalu banyak energi," katanya pelan. "Tubuhnya tidak bisa menampungnya."

Leena menangis, mencoba mendekati Lynx lagi. "Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini!"

Leena tetap berusaha mencoba mendekati, hingga akhirnya Lynx pingsan karena kelelahan.

Lynx dibawa ke pondok penyembuhan, meskipun panas tubuhnya membuatnya sulit disentuh. Nenek Dorna akhirnya menciptakan ramuan pendingin yang berhasil menstabilkan suhu tubuh Lynx setelah beberapa jam.

Ketika Lynx sadar, ia melihat Leena duduk di sisinya, matanya sembab karena menangis.

"Kau bodoh," kata Leena dengan suara gemetar. "Kau hampir membunuh dirimu sendiri."

"Aku minta maaf," kata Lynx lemah. "Aku terlalu terburu-buru."

Nenek Dorna berdiri di dekat pintu. "Kau tidak bisa melakukan ini sendirian, Lynx. Dan kau tidak bisa terburu-buru. Jika kau mencoba lagi tanpa memahami batasmu, kau tidak hanya akan membahayakan dirimu sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarmu."

Lynx menundukkan kepala. "Aku mengerti. Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu."

Setelah pulih, Lynx memutuskan untuk berbicara dengan Kepala Suku Maret dan para tetua lainnya. Mereka berkumpul di sebuah pondok besar di tengah kampung.

"Kita harus bersiap melawan Monrest," kata Lynx dengan suara tegas. "Mereka akan datang lagi, dan kita tidak bisa hanya menunggu di sini tanpa melakukan apa-apa."

Maret mengangguk. "Aku setuju. Tapi bagaimana caranya? Kami tidak punya senjata, dan kami tidak terlatih untuk bertarung."

"Kita tidak butuh senjata besar," jawab Lynx. "Kita bisa membuat jebakan di sekitar kampung dan menggunakan racun untuk melindungi diri. Itu akan memberi kita keuntungan."

Nenek Dorna mengangguk. "Aku biasa membuat obat untuk menyembuhkan. Dengan bahan yang sama, aku bisa membuat racun. Tapi ini akan membutuhkan waktu."

"Waktu adalah sesuatu yang tidak kita punya banyak," kata Maret. "Kita harus mulai sekarang."

Lynx berdiri. "Aku akan memimpin pembuatan jebakan. Kita mulai dengan memperkuat pagar dan menambahkan jembatan penghalang. Jika Monrest menyerang, kita harus membuat mereka kesulitan untuk masuk. Leena bisa membantu membuat racun, kami juga sudah sedikit mempelajarinya."

Para tetua akhirnya setuju, dan penduduk desa mulai bekerja bersama untuk memperkuat kampung mereka.

Di markas Suku Monrest, Kepala Suku mereka, Demon, berdiri di depan altar besar. Dukun suku mereka melakukan ritual, membisikkan mantra dalam bahasa kuno.

Tiba-tiba, lilin-lilin di sekitar altar padam, dan dukun itu berhenti. "Kepala Suku Demon," katanya dengan suara tegang, "aku merasakan sesuatu yang tidak biasa. Energi pulau ini terganggu lagi. Selain itu rombongan Kargo tidak kembali, dan aku merasa sesuatu telah terjadi pada mereka."

Demon mengerutkan dahi. "Kargo gagal? Itu mustahil. Mereka seharusnya cukup kuat untuk menangani Sinto."

"Ini bukan soal Sinto," kata dukun itu. "Aku merasakan kekuatan baru yang berbeda."

Demon menoleh ke pasukannya. "Periksa pulau ini. Dan Revan, Nesa, Jor cari tahu apa yang terjadi pada Kargo. Jika ada yang mencoba melawan kita, pastikan mereka tidak pernah melakukannya lagi."

Pasukan Monrest segera bergerak, membawa senjata mereka. Di sisi lain pulau, persiapan Lynx dan Sinto baru saja dimulai. Perang tidak bisa dihindari.
